INDRAGIRI HILIR, TEMBILAHAN - Bupati Inhil H Muhammad Wardan menyatakan selama tahun 2016 lalu, sebanyak 200 anak pecandu ngelem dan zat adiktif lainnya terjaring razia yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). 

Beliau menyatakan data dari Satpol PP ini menggambarkan bahwa penyalahgunaan lem kambing dan zat adiktif lainnya di kalangan anak-anak sudah sangat membahayakan. 

http://www.riaucitizen.com/search/label/Berita%20Inhil
"Selama tahun 2016, berdasarkan razia Satpol PP ke rumah kosong dan semak-semak didapati sekira 200 anak yang kecanduan lem. Mereka kemudian diberikan pengarahan dan dikembalikan kepada orangtuanya," ungkap Wardan, baru-baru ini. 

Maka, diperlukan sinergi semua pihak untuk mengantisipasi dan mencegah anak-anak dari bahaya penyalahgunaan lem dan bahan berbahaya lainnya. 

Ketua Komisi IV DPRD Inhil H Adriyanto yang aktif turun ke sekolah-sekolah memberikan penyuluhan tentang kepedulian terhadap anak dari tindakan yang merugikan mereka, terutama bahaya ngelem dan zat adiktif lainnya. 

Disebutkan, memang sebagian besar anak-anak yang terlibat penyalahgunaan lem kambing dan zat adiktif lainnya dari kalangan anak-anak yang tidak sekolah lagi. 

"Kebanyakan yang ngelem dan menggunakan zat adiktif lainnya itu, tidak sekolah lagi. Tapi, pencegahan juga harus dilakukan secara aktif di sekolah-sekolah," ujarnya. 

Rumah kosong dan semak-semak yang jauh dari pantauan masyarakat merupakan tempat-tempat yang digunakan anak-anak yang terlibat penyalahgunaan lem kambing dan zat adiktif lainnya, seperti obat batuk cair merek Komix, Dextro. 

"Maka, lokasi seperti ini selalu dilakukan pemantauan, saat tim patroli Satpol PP turun ke lapangan. Kalau ketemu akan kami bawa ke kantor dan diberikan pengarahan dan dilaporkan kepada orangtua dan pihak sekolah," tegas Sugianto, Kepala Bidang Operasi dan Ketertiban Umum Satpol PP Inhil Sugianto.(hil01)

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.